4 Sosok Pahlawan Di Jawa Barat Yang Revolusioner

4 Sosok pahlawan di Jawa Barat. Jika berbicara tentang pahlawan, kita akan berbicara bagaimana perjuangan mereka hingga pantas disebut pahlawan. Kali ini, kita akan membahas tentang 4 pahlawan di Jawa Barat. Mereka yang berjiwa revolusioner hingga rela mati untuk rakyat Jawa Barat dan bangsa Indonesia. Mereka mendedikasikan diri untuk kemerdekaan bangsa Indonesia baik dari pemikiran maupun gerakan-gerakan nyata, membuat mereka layak mendapat predikat pahlawan. Hal ini dikarenakan mereka memiliki andil dalam kehidupan berkebangsaan dan bernegara.

Namun, terkadang kita lupa dan sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Kita hanya tahu nama-nama yang akan dijelaskan berikut ini sebagai nama jalan-jalan yang berada di Jawa Barat. Padahal, ada makna yang tersirat di balik penamaan jalan-jalan tersebut. Salah satunya sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa mereka. Selain itu, untuk selalu mengingatkan kita akan perjuangan mereka.

Berikut ini 4 pahlawan yang berasal dari Jawa Barat yang terkenal karena jiwa revolusi yang mereka miliki.

Sultan Ageng Tirtayasa – Sosok Pahlawan Di Jawa Barat

Sultan Ageng Tirtayasa yang bernama asli Sultan Abdul Fathi adalah seorang pahlawan kelahiran Banten pada 1631. Beliau seorang penguasa Banten yang terkenal karena kepiawaiannya dalam memimpin Banten. Di bawah kepemimpinannya, Banten sempat mengalami masa kejayaan pada 1651 hingga 1653. Pada masa inilah, beliau berhasil memajukan Banten dalam hal perdagangan dan penyebaran agama Islam.

Dalam hal perdagangan, Sultan Ageng yang sudah memperhatikan keberadaan VOC di Batavia sejak muda menyadari bahwa hal itu akan merugikan perdagangan Banten. Alasannya tentu karena kebijakan VOC yang mengharuskan para pedagang yang akan ke Banten harus berlabuh dulu di Batavia.

Itulah sebabnya, pada masa kekuasaannya, beliau membuat beberapa kebijakan untuk membenahi perdagangan yang tidak sehat oleh VOC. Kebijakannya, yaitu dengan memperluas daerah kekuasaan dengan menguasai Batavia. Caranya dengan mengusir Belanda dari Batavia. Dengan begitu wilayah perdagangan Banten meluas dan membuat perdagangan masyarakat Banten maju dengan pesat.

Perannya yang lain adalah dalam penyebaran agama Islam. Beliau menunjuk Syeh Yusuf yang tiada lain adalah seorang ulama dari Makasar untuk menjadi penasihatnya di istana. Tugas lainnya, yaitu untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul antar agama akibat adu domba yang dilakukan oleh Belanda. Pada masa pemerintahannya, berbagai prasarana keagamaan dibangun agar rakyat Banten memiliki pendidikan agama yang baik. Beliau wafat dalam tahanan Belanda akibat pengkhianatan anaknya sendiri pada 1682.

Bagus Rangin

Bagus Rangin adalah salah satu tokoh pahlawan di Jawa Barat yang berasal dari Bantarjati, Majalengka, Jawa Barat. Beliau lahir pada 1805 dan wafat pada 1812 akibat hukum penggal kepala oleh Belanda. Hukuman itu diakibatkan oleh kekalahannya dalam perang pemberontakam melawan Belanda yang berlangsung dari 16 hingga 29 Februari 1812. Bagus Rangin berhasil ditangkap dan dihabisi oleh Belanda dan dipenggal kepala di daerah Cimanuk.

Awalnya, beliau hanya seorang rakyat biasa, tapi mata hatinya tidak rela melihat rakyat Kasultanan Cirebon diinjak injak haknya. Segala tindakan yang membuat rakyat menderita hingga kelaparan akibat penjajahan oleh Belanda maupun oleh bangsa sendiri. Dengan keberaniannya, beliau berteriak di mana-mana untuk menyuarakan isi hatinya. Membuka mata hati rakyat untuk bangkit melawan ketidakadilan pada masa itu. Saat itu, rakyat sampai berguling-guling di tanah karena kelaparan. Membuat mereka rela menjual diri demi sesuap nasi.

Teriakannya membuahkan hasil dengan dukungan yang mengelora dari rakyat. Mereka maju untuk sama-sama berjuang bersama Bagus Rangin untuk melawan Belanda dan penguasa lokal yang melakukan penindasan. Termasuk para kaum Tiong Hoa yang diuntungkan dengan keadaan pada saat itu. Diuntungkan karena berkat kerja sama dengan Belanda, mereka menyewa lahan-lahan pertanian yang merupakan lahan perekonomian rakyat Cirebon pada waktu itu.

Hal inilah yang membuahkan gejolak Bagus Rangin yang tidak tahan melihat rakyat Cirebon yang menderita dengan pesakitan dan kelaparan di mana-mana. Beliau berjuang demi hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan dari bumi mereka.

Oto Iskandar Dinata

Oto Iskandar Dinata adalah seorang bangsawan yang peduli akan nasib bangsanya. Darinya pula populer istilah “Indonesia merdeka” yang lebih sering didengar dengan istilah “Merdeka” yang baru bisa dikenyam Indonesia pada 1945. Oto yang cerdas, berjiwa seni, dan menyenangi olah raga ini lahir di Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat pada 31 Maret 1897. Beliau anak ke-3 dari 9 bersaudara yang lahir dari pasangan Raden Haji Rachmat Adam dan Nyi Raden Siti Hatijah yang sama-sama berdarah biru.

Perjuangannya dilakukan dengan menjadi seorang guru. Mendidik anak-anak Indonesia agar mereka sadar akan pentingnya kemerdekaan. Memberikan pendidikan dengan baik hingga tercipta generasi-generasi yang cerdas dan memiliki nasionalisme yang tinggi. Kegigihannya dalam menyadarkan rakyat Indonesia akan pentingnya kemerdekaan inilah yang membuatnya berani membongkar skandal bendungan kemuning.

Sebuah skandal yang hampir membuat bangsa Indonesia dari penipuan besar-besaran yang dilakukan Belanda. Akibat hal ini, beliau masuk ke dalam daftar hitam yang patut diwaspadai oleh pemerintahan Belanda. Karena itulah, akhirnya beliau menjadi korban laskar hitam yang hingga saat ini tidak pernah ditemukan jenazahnya. Akirnya, pada 20 Desember 1945 ditetapkan sebagai hari wafatnya. Beliau meninggalkan seorang istri dan 12 orang anak dalam kepahlawanannya.

Kiai Haji Zainal Mustafa

Kiai Haji Zainal Mustafa adalah salah satu pahlawan di Jawa Barat yang juga berpengaruh dalam perjuangan melawan penjajahan dan segala ketidakadilan yang terjadi di Indonesia. Beliau adalah seorang ulama kelahiran Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Ilmu agamanya beliau dapatkan dengan berguru ke beberapa pesantren yang ada di Jawa Barat. Hal itu tentu saja membuatnya memiliki ilmu keagamaan yang dalam. Beliau pun memiliki kemahirannya dalam berbahasa Arab. Keinginannya untuk berbagi ilmu membuatnya bercita-cita mendirikan pesantren. Cita-citanya berhasil beliau wujudkan dengan berdirinya pesantren Sukamanah di tanah kelahiranya.

Perjuangan terbesarnya adalah membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Dengan berani secara terang-terangan, beliau berdakwah yang di dalamnya terkandung nilai-nilai Islam yang membangkitkan gelora nasionalisme rakyat Indonesia pada saat itu.

Melalui khutbah-khutbahnya pula beliau menyerang kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintaan Belanda secara frontal. Akibatnya, beliau ditahan beberapa kali atas tuduhan penghasutan rakyat untuk melawan Belanda bersama beberapa kiai lainnya.

Begitupun halnya pada masa pemerintaha Jepang. Beliau yang tadinya akan dimanfaatkan oleh pemerintahan Jepang justru sebaliknya. Beliau memperingatkan bahwa fasisme Jepang jauh lebih kejam dari Belanda. Kiai Haji Zainal Mustafa pun menolak tradisi Seikrei yang diwajibkan Jepang yang dianggapnya bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan, ketika beliau harus ditodong senjata oleh tentara Jepang untuk melakukan sekrei, tapi menolak. Hal ini membuat terjadinya ketegangan antara penguasa Jepang dengan dirinya.

Melalui pesantrennya ia melakukan perjuangannya. Secara diam-diam, beliau melatih para santrinya untuk berperang dan melakukan latihan pencak silat. Setiap hari, santrinya terus diberi khotbah untuk mempertebal ilmu agamanya dan juga semangat juangnya dalam membela rakyat.

Hingga pada puncaknya para santri Sukamanah merencanakan tindakan sabotase dengan penculikan para pembesar Jepang, pembebasan para tahanan politik, perusakan dan penghancuran sarana umum yang digunakan tentara epang, dan lain sebagainya. Namun sayangnya, misi itu terbongkar yang membuahkan penangkapan. Penangkapan yang justru membuat para penangkap itu ditahan dan dilucuti senjatanya.

Akhirnya, pemberontakan pun mulai dilakukan terang-terangan dengan pertempuran melawan Jepang. Akibatnya, puluhan santri wafat dalam pertempuran dan karena disiksa. Ada pula yang mengalam kecacatan akibat penyiksaan tersebut. Selain itu, dilakukan penangkapan besar-besaran para santri yang sudah diamanatkan untuk mengatakan tidak tahu menahu tentang pemberontakan itu.

Akibatnya, pemberontakan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab sang Kiai. Karena itulah, beliau dan 23 orang lain yang diduga terlibat ditangkap untuk diadili yang justru dieksekusi pada 25 Oktober 1944. Sang Kiai wafat dalam jihadnya dan menjadi salah satu pahlawan di Jawa Barat yang diabadikan dalam nama sebuah jalan di Bandung dan Tasikmalaya.

Share:

admin

Halo perkenalkan nama saya Mangaip. Saya merupakan konten kreator, influencer, dan penulis di blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.