Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Mempersiapkan Mental Anak Dalam Menghadapi Perpisahan Orang Tua

Mempersiapkan Mental Anak Dalam Menghadapi Perpisahan Orang Tua

Mempersiapkan Mental Anak Dalam Menghadapi Perpisahan Orang Tua – Ketika menempuh kehidupan baru atau menikah, setiap orang pasti menginginkan rumah tangga yang dibangun dengan pasangannya akan berjalan dengan lancar, langgeng, dan abadi selamanya. Tidak ada seorang pun yang suka dengan perpisahan atau perceraian karena semua itu menyakitkan bukan saja bagi istri dan suami, tetapi juga orang-orang yang dekat dengan mereka.

Semua pasti berharap akan menemukan kebahagiaan yang sejati bersama suami atau istri tercinta sesuai dengan doa yang dipanjatkan ketika mengucap janji untuk saling setia dan sehidup semati dalam acara ijab kabul atau akad nikah. Namun sebagaimana hukum alam yang lain, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan atau keinginan yang dicita-citakan.

Adalakalanya setelah menjalani kehidupan bersama dalam jangka waktu yang tidak pendek bahkan puluhan tahun, setiap pasangan akan menemukan suatu masalah yang cukup serius dan tidak bisa diselesaikan berdua (antarsuami istri)..

Baik suami atau istri memiliki konsep dan pandangan yang berbeda bahkan bisa saling berlawanan. Hal seperti ini sering menjadikan terjadinya percecokan dan perseteruan dalam rumah tanggga, yang pada ujungnya adalah mereka bersepakat untuk berpisah atau bercerai.

Korban Pertama Peceraian Orang Tua

Korban Pertama Peceraian Orang Tua

Perceraian tersebut bukan saja memberi dampak pada kedua belah pihak baik suami maupun istri, namun juga termasuk orang yang paling dekat dengan mereka. Siapa lagi kalau orang terdekat tersebut kalau bukan anak-anak mereka sendiri. Bahkan bisa dikatakan, jika anak adalah korban pertama yang merasakan dampak maupun efek dari perpisahan atau perceraian yang terjadi pada kedua orang tuanya.

Jika anak tersebut sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri atau sudah berumah tangga, dampak yang paling dirasakan adalah merasa malu dan tidak enak hati baik kepada keluarga istri atau suaminya terutama pada mertua sendiri.

Bukan hanya itu saja, mereka juga akan merasa rendah diri jika ada teman, tetangga, atau rekan kerja yang mengetahui perceraian yang dialami oleh kedua orang tuanya. Namun, sudah merasa cukup umur dan mampu mengatur kestabilan emosi, biasanya mereka akan mampu menghadapi masalah ini walaupun dengan cara yang tidak mudah.

Bagaimana jika pasangan yang bercerai tersebut memiliki anak yang masih anak-anak? Memiliki anak yang usianya masih belasan tahun atau remaja di mana tingkat kestabilan emosinya masih mudah berubah dan gampang terombang-ambing oleh keadaan dan situasi atau kondisi yang sangat tidak diharapkannya tersebut.

Hal ini tentu akan memunculkan permasalahan tersendiri yang tidak kalah seriusnya. Anak tersebut pasti akan merasa kesepian karena orang tuanya tidak bisa dijadikan sebagai tempat untuk berkeluh kesah atau berdiskusi maupun bertukar pendapat.

Sementara itu, untuk anak yang masih kecil, perceraian kedua orang tuanya juga akan membuat mereka merasa kaget (shock). Sebelumnya setiap hari anak tersebut bisa bermanja-manja dan bersendau gurau dengan riang gembira bersama orang tuanya baik di rumah atau di tempat bermain yang lain.

Namun, setelah kedua orang tuanya bercerai maka hal ini tidak akan pernah bisa melakukan hal itu lagi. Dalam hal ini, anak akan merasa kehilangan tempat untuk berlindung dan bernaung. Tidak seperti remaja atau yang sudah dewasa, anak yang masih kecil apalagi yang balita tentu belum bisa membuat keputusan sendiri terhadap apa yang sedang mereka hadapi.

Dampak Negatif Perpisahan Orang Tua

Dampak Negatif Perpisahan Orang Tua

Setelah mengalami hal-hal yang sangat tidak diinginkan, yaitu perceraian kedua orang tuanya, anak-anak tentu akan menghadapi masa-masa yang sangat sulit bagi mereka. Jika kondisi emosinya bisa menguasai keadaan tersebut, tentu masalah yang timbul tidak akan memunculkan suatu dampak yang begitu besar.

Namun jika mereka dalam kondisi emosi, kondisi kejiwaan yang labil, dan tidak menentu, pasti akan memunculkan dampak dan efek yang tidak baik. Untuk orang yang usianya sudah dewasa, mereka akan merasa ada sesuatu yang tidak berkenan.

Jika tidak kuat menahan malu pada keluarga mertua, teman kerja, atau tetangga, dia pasti tidak mau menemui kedua orang tuanya kembali. Jika hal ini terjadi tentu akan memunculkan rasa sakit hati yang kedua kalinya, yaitu sakit hati karena harus menghadapi perceraian dan sakit hati karena tidak bisa berhubungan kembali dengan anak-anaknya sendiri.

Lain halnya dengan anak yang usianya masih remaja, bahaya yang sering ditimbulkan karena perceraian kedua orang tuanya adalah dia merasa kehilangan identitas diri dan tidak memiliki tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya. Akibat yang timbul adalah anak tersebut akan mencari tempat pelarian lain.

Jika dia memilih tempat pelarian yang baik, seperti menjadi semakin rajin berdoa kepada Tuhan, tentu hal ini merupakan hal yang sama sekali tidak mengkhawatirkan. Namun bagaimana jika dia mencari tempat pelarian pada hal-hal yang tidak baik? Hal ini mungkin saja terjadi. Misalnya, anak tersebut menjadi lebih suka bergaul dengan orang-orang yang suka keluyuran tanpa ada tujuan yang jelas.

Bahkan yang lebih parah dan mencemaskan, anak tersebut menjadi pemabuk, suka mengonsumsi obat-obatan terlarang (narkoba), seks bebas, atau kegiatan lain yang berbau kriminal, seperti suka mengambil barang orang lain yang bukan haknya atau mencuri dan hal-hal lain yang merugikan orang banyak.

Hal tersebut akan membuat masa depan anak akan hancur dan tidak memiliki harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik pada masa mendatang.

Berbeda dengan kondisi pada anak yang masih kecil. Selain mereka harus kehilangan tempat untuk berlindung, mereka juga akan merasa hidup sendirian tanpa ada orang lain yang mau menemaninya. Akibatnya anak tersebut akan hidup terlunta-lunta. Jika tidak ada yang mengawasi dan kedua orang tuanya sibuk mengurusi perceraian mereka, bisa saja anak tersebut akan dipungut dan diasuh oleh orang lain.

Hal ini akan menjadi suatu keberuntungan sendiri jika orang yang mengasuh tersebut memiliki niat yang baik dan tulus untuk membantu atau memeliharanya. Namun bagaimana jika dia diasuh oleh orang yang tidak bertanggung jawab serta memiliki niat yang tidak baik. Akibatnya akan menjadi sangat fatal dan berbahaya.

Mengurangi dan Menghilangkan Dampak Perceraian

Mengurangi dan Menghilangkan Dampak Perceraian

Menilik dari fenomena tersebut, sebaiknya orang tua menyadari terhadap efek yang sangat merugikan dari perceraian yang mereka lakukan. Jalan terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah menggagalkan perceraian tersebut.

Namun jika perpisahan tersebut memang sudah tidak bisa dihindari lagi, sebaiknya ada langkah-langkah yang harus dilakukan oleh kedua orang tua tersebut, antara lain sebagai berikut.

  • Meski sedang sibuk mengurus perceraian, kedua orang tua tetap harus bisa menyediakan waktunya untuk mendampingi anak mereka terutama yang masih usia remaja dan anak-anak dalam menghadapi masa-masa yang sangat tidak menyenangkan tersebut.
  • Berilah pengertian dan keyakinan kepada mereka jika perceraian kedua orang tuanya bukan merupakan akhir dari segalanya. Hidup mereka tetap bisa berjalan normal jika mau terus belajar dan memiliki mental yang kuat. Selain itu, orang tua juga harus bisa memberi jaminan jika anak tetap bisa melanjutkan cita-cita dan mimpi masa depan sesuai dengan keinginan dan angan-angan.
  • Orang tua sebaiknya juga melakukan diskusi dengan baik tentang siapa yang akan mengasuh anak sehari-hari paska perceraian. Jangan sampai terjadi kedua orang tua melepas tanggung jawabnya, atau justru anak menjadi rebutan yang mengakibatkan mereka makin merasa sedih dan frustasi.
  • Jika anak sudah dewasa, cara terbaik yang mesti dilakukan adalah tetap menjalin hubungan dan silahturahmi meski mereka telah punya jalan kehidupan sendiri. Bahkan jika perlu, orang tua bisa bertemu dengan keluarga mertua anak agar jalinan kekeluargaan yang selama ini telah terjalin tidak akan putus begitu saja.
  • Setelah sah bercerai dan berpisah, orang tua harus tetap menjalin komunikasi yang baik meski sudah bukan merupakan pasangan suami istri lagi. Tunjukan kepada anak, meski sudah bercerai tetap bisa menjadi orang tua yang baik dan penuh perhatian. Hal ini akan menjadikan anak memiliki rasa percaya diri yang tinggi serta mampu menghadapi masalah yang sedang menderanya.
Share:

Mangaip

Halo perkenalkan nama saya Mangaip. Saya merupakan konten kreator, influencer, dan penulis di blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ibu Guru Pasti Meleleh, Ini Puisi Hari Guru Nasional Berbagai Macam Peralatan Kantor Serta Fungsinya