Pandangan Agama Terhadap Nikah Beda Agama dan Dampaknya

Indonesia memiliki berbagai keberagaman, salah satunya berkaitan dengan agama. Saat ini terdapat enam agama yang diakui secara resmi di Indonesia yakni agama Islam, Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu dan Konghucu. Nah berkaitan dengan perkawinan, keberagaman agama ini tentunya menimbulkan kemungkinan terjadinya nikah beda agama.

Sebagian agama memberikan toleransi terhadap pasangan yang ingin menikah dengan agama yang berbeda. Tetapi ada pula agama yang melarang pernikahan di antara pasangan dengan agama yang tidak sama.

Pandangan Berbagai Agama Terhadap Pernikahan dengan Agama Berbeda

Pandangan Berbagai Agama Terhadap Pernikahan dengan Agama Berbeda

Dari enam agama yang diakui di Indonesia, sebagian besar tidak mendukung nikah beda agama atau pernikahan pasangan dengan agama yang berbeda. Agama Islam dengan jumlah penganut terbanyak di Indonesia memiliki pandangan bahwa perkawinan pasangan dengan agama yang berbeda dilarang untuk dilakukan. Namun ada beberapa ulama yang mempunyai pandangan berbeda dan memperbolehkan pernikahan ini berlangsung. Tentu saja pandangan ini menjadi perdebatan.

Seperti halnya pandangan agama Islam, agama Kristen Protestan pun melarang nikah beda agama atau pernikahan pasangan beda agama. Sebab perbedaan keyakinan ini akan menghalangi tercapainya kebahagiaan hidup keluarga yang menjadi tujuan utama dalam sebuah perkawinan. Agama Katolik pun melarang terjadinya perkawinan beda agama ini, tetapi jika pasangan beda agama sanggup memenuhi beberapa ketentuan maka pihak gereja Katolik bisa memberikan dispensasi atau pengecualian.

Beberapa ketentuan yang wajib dipatuhi oleh penganut ajaran Katolik untuk melangsungkan perkawinan beda agama. Antara lain, mendapatkan ijin dari Uskup, mampu menjalankan pernikahan monogami, memberikan kebebasan kepada pasangan yang menganut agama Katolik untuk menjalankan ibadah, dan menyetujui untuk mendidik anak-anak yang dilahirkan dalam perkawinan tersebut dalam pendidikan Katolik.

Sementara itu pada agama Hindu, pernikahan yang dilakukan oleh pasangan beda agama tidak diperbolehkan. Dalam agama Hindu kedua mempelai harus melalui sebuah ritual upacara. Ritual upacara ini dimaksudkan untuk menyucikan kedua calon mempelai sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Jika pernikahan dengan status beda agama diteruskan, maka pihak yang memiliki perbedaan agama harus bersedia menganut agama Hindu terlebih dahulu melalui upacara tertentu.

Sebaliknya di dalam agama Budha perkawinan dengan perbedaan agama diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang sudah ditetapkan. Pihak yang berbeda agama harus bersedia mengikuti upacara pernikahan dalam agama Budha tetapi tanpa keharusan untuk menganut agama ini.

Pandangan agama Budha yang memperbolehkan perkawinan beda agama ini sama seperti pandangan agama Konghucu. Ajaran agama Konghucu lebih menekankan penghormatan dan penghargaan seorang istri kepada suami dengan tidak melibatkan unsur perbedaan keyakinan. Perbedaan keyakinan antara suami dan istri menjadi keputusan pribadi masing-masing orang.

Jika beberapa agama membuka peluang terhadap terjadinya nikah beda agama, maka perundang-undangan yang berlaku mengatur hal yang sebaliknya. Undang-undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa pernikahan dengan perbedaan agama tidak diperbolehkan untuk dilakukan. Pernikahan seperti ini dianggap tidak sah di mata hukum terkecuali bila salah satu calon mempelai mengikuti keyakinan pasangannya.

Undang-undang inilah yang membuat pasangan berbeda keyakinan di Indonesia memilih untuk melangsungkan pernikahan di luar negeri atau memilih untuk melakukan pernikahan secara adat saja tanpa disahkan oleh negara.

Undang-undang perkawinan tersebut sempat digugat ke Mahkamah Konstitusi oleh beberapa pihak yang mengharapkan agar negara mengembalikan masalah agama dalam perkawinan kepada warganegara atau mengikuti pandangan agama yang diyakininya. Gugatan terhadap undang-undang perkawinan ini juga diharapkan bisa memberikan kepastian hukum bagi warganegara Indonesia yang ingin menikah dengan keyakinan yang berbeda.

Dampak Pernikahan Pasangan Beda Agama

Terlepas dari toleransi atau larangan yang ditetapkan oleh masing-masing agama berkaitan dengan pernikahan pasangan beda agama, sesungguhnya pernikahan antara dua orang dewasa yang mempunyai keyakinan berbeda mempunyai dampak-dampak yang perlu dipertimbangkan. Sebagian orang bisa mengatasi dampak yang muncul, namun cukup banyak pernikahan yang kandas di tengah jalan karena tak mampu menghadapi dampak-dampaknya.

Dampak Pernikahan Pasangan Beda Agama

Dampak pertama yang bisa terjadi dalam pernikahan dengan agama yang berbeda adalah munculnya rasa tidak nyaman. Pasangan yang memutuskan untuk menjalani pernikahan beda keyakinan tentunya sudah mempersiapkan diri untuk memberikan toleransi kepada pasangannya untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dipeluknya.

Namun tak bisa dipungkiri di suatu masa selama rentang pernikahan akan muncul saat-saat suami atau istri merasa tidak lengkap dalam menjalankan ibadah karena ketidakhadiran pasangannya. Misalnya saja ketika suami/istri menjalankan ibadah haji atau saat suami/ istri merayakan natal sendirian tanpa ditemani pasangan.

Jika rasa tidak nyaman ini dibiarkan terus berkembang, maka tentunya akan berpengaruh pada kedekatan hubungan antara suami dan istri. Karena itulah, pasangan yang hendak menikah dengan agama berbeda hendaknya memiliki toleransi yang tinggi dan mampu menjaga komunikasi agar tidak muncul rasa tidak nyaman.

Selain munculnya rasa tidak nyaman, dampak lain yang muncul berkaitan dengan pendidikan agama untuk anak-anak. Anak-anak yang lahir dari pasangan beda agama akan dihadapkan pada dua teladan yang berbeda. Tak hanya itu saja, jika suami dan istri saling mempengaruhi anak untuk mengikuti agama yang diyakininya maka anak akan dihadapkan pada dua pilihan yang sulit dan membuatnya terombang-ambing.

Keadaan ini juga bisa memunculkan konflik antara suami dan istri yang sama-sama ingin agar anak-anak mengikuti ajaran agama yang diyakni. Situasi bisa bertambah rumit jika keluarga besar dari pihak suami atau istri ikut campur dalam masalah agama ini. Sebab dalam kehidupan perkawinan di Indonesia, keluarga besar masih terlibat dalam masalah-masalah keluarga seperti ini.

Sebaliknya, bila terdapat kesepakatan bahwa anak-anak yang kelak lahir dari perkawinan beda agama harus mengikuti salah satu agama yang diyakini suami/ istri, maka salah satu pihak akan merasa kesepian dan seperti terasing dari keluarganya sendiri. Dampak psikologis tersebut hanyalah beberapa contoh saja. Dalam kehidupan nyata bisa jadi beberapa dampak psikologis lainnya bermunculan.

Selain dampak psikologis, pernikahan pasangan yang beda agama juga beresiko menimbulkan konflik antara orangtua dengan anak. Orangtua yang tidak menyetujui pernikahan dengan perbedaan agama tentu akan menentang keputusan anak mereka yang hendak menikah dengan pasangan dari keyakinan yang berbeda.

Perbedaan pandangan ini tentu akan berujung konflik jika salah satu pihak memaksakan diri untuk mempertahankan pandangannya. Hubungan antara orangtua dan anak yang renggang sebagai akibat perkawinan beda agama seringkali dapat berakibat pada melemahkan ikatan antara suami dan istri yang berbeda agama.

Serangkaian dampak inilah yang sebaiknya dipertimbangkan oleh pasangan-pasangan yang hendak menjalani pernikahan beda keyakinan sehingga mahligai pernikahan yang hendak dibangun bisa bertahan dan tidak kandas di tengah jalan. Para pemuka agama yang ada di Indonesia sesungguhnya tidak tinggal diam melihat keadaan ini.

Langkah yang dilakukan untuk menghindari terjadinya nikah beda agama ini antara lain dengan memberikan penerangan mengenai dampak-dampak pernikahan beda keyakinan dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk kaum muda-mudi. Pertemuan ini dimaksudkan agar kaum muda-mudi menemukan pasangan hidup dari komunitas yang seiman.

Share:

admin

Halo perkenalkan nama saya Mangaip. Saya merupakan konten kreator, influencer, dan penulis di blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.