Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Uniknya Peribahasa Indonesia Di Dunia Modern

Uniknya Peribahasa Indonesia Di Dunia Modern

Sejak kecil kita sudah diperkenalkan dengan peribahasa Indonesia. Misalnya, “Bagai air di daun talas” atau “Tak ada rotan, akar pun jadi”. Peribahasa Indonesia digunakan sebagai metafora sebuah keadaan yang kadang berfungsi untuk memperindah cara kita mengungkapkan sesuatu.

Semestinya, peribahasa Indonesia mempunyai susunan yang tetap sehingga pengertiannya tidak bergeser seiring dengan pergantian zaman. Namun, pada masa kini, mudah sekali didapatkan penyelewengan demi penyelewengan penggunaan peribahasa Indonesia. Kebanyakan bertujuan untuk melucu. Misalnya, peribahasa “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” berubah menjadi “ringan sama dijinjing, berat sama difficult.” Apa saja contoh pelesetan peribahasa Indonesia di era modern dan bagaimana penggunaannya?

Menciptakan “Teori Baru” dalam Peribahasa Indonesia

Menciptakan “Teori Baru” dalam Peribahasa Indonesia

Ada kalanya peribahasa Indonesia modern digunakan untuk membalikkan teori yang disusun oleh peribahasa indonesia asalnya. Artinya, si pembuat pelesetan peribahasa Indonesia, memberikan asumsi lain yang berlawanan dengan maksud awal peribahasa Indonesia.

Ada pula pelesetan peribahasa Indonesia yang fungsinya memperolok teori peribahasa asalnya. Dalam hal ini, peribahasa baru tidak bermaksud mengkritik, menyindir, atau membuat opini baru tentang makna peribahasa lama. Melainkan, justru memperoloknya atau membuat peribahasa Indonesia tersebut jauh dari makna asal.

Dalam hal ini, ada dua tipe peribahasa Indonesia yang memelesetkan teori. Pertama, yang murni memelesetkan peribahasa lama dengan cara memberi menafsirkan pengertian yang berbeda. Kedua, yang memelesetkan peribahasa Indonesia tersebut dengan cara mengganti beberapa frasa.

Makna Peribahasa Indonesia Lama dan Plesetannya

Makna Peribahasa Indonesia Lama dan Plesetannya

Contoh peribahasa Indonesia lama yang bisa “plesetkan” maknanya adalah sebagai berikut.

  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui (Sekali berbuat sesuatu, dua-tiga pekerjaan/masalah terselesaikan). Plesetan maknanya:  Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui (Makna: orang yang nekat sekali, orang yang memiliki kekuatan super, sebuah kegiatan yang sangat mustahil).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Bagai tertimpa durian runtuh(Menerima rezeki dalam jumlah besar). Plesetan maknanya: Bagai tertimpa durian runtuh(menerima pukulan/cobaan/musibah yang sakit sekali).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri(sebaik-baiknya tempat adalah tanah air atau kampung halaman sendiri). Plesetan maknanya: Hujan emas di negeri orang(pasti diberitakan karena sangat menghebohkan). Hujan batu di negeri sendiri. (secepatnya berlindung ke gua).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung (Kita harus mematuhi peraturan di tempat yang ditinggali). Plesetan maknanya: Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung (tangan kita pasti pegal karena mesti menjunjung langit).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Sambil menyelam minum air. (melakukan dua pekerjaan sekaligus). Plesetan maknanya: Sambil menyelam minum air (hati-hati tersedak karena minum air saat menyelam).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Datang tampak muka, pulang tampak punggung (Seseorang harus sopan dalam bertingkah laku. Jika bertamu, kedatangan dan kepergian kita harus diketahui oleh tuan rumah). Plesetan maknanya: Datang tampak muka, pulang tampak punggung (sundelbolong, jenis hantu yang memiliki bolong besar di punggung dan sering dipamerkan untuk menakut-nakuti manusia yang diganggunya).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Tak ada gading yang tak retak (Tidak ada yang sempurna di dunia ini). Plesetan maknanya: Tak ada gading yang tak retak (Ini adalah trik penjual gading agar para pembeli tertarik untuk membeli produknya).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Asam di laut, garam di gunung, akhirnya berjumpa pula (Kalau sudah jodoh, dipisahkan seperti apa pun,pasti bertemu juga). Plesetan maknanya: Asam di laut, garam di gunung, akhirnya berjumpa pula (ini merupakan tanda bahwa laut sudah tercemar).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Bagai telur di ujung tanduk (Keadaan genting). Plesetan maknanya: Bagai telur di ujung tanduk (sebuah pertunjukan sirkus).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Biar lambat asal selamat (Pekerjaan yang dilakukan hati-hati, yang penting aman). Plesetan maknanya: Biar lambat asal selamat (orang yang sedang latihan naik sepeda).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Gali lubang tutup lubang (menutupi hutang dengan cara berutang di tempat lain). Plesetan maknanya: Gali lubang tutup lubang (Rhoma Irama dikejar-kejar oleh debt collector), Gali lubang tutup lubang (orang yang melakukan pekerjaan sia-sia, seolah tidak ada pekerjaan lain).
  • Peribahasa Indonesia dan makna sesungguhnya: Cepat tangan, ringan kaki (orang yang memiliki keahlian dan ketangkasan dalam menyelesaikan masalah). Plesetan maknanya: Cepat tangan, ringan kaki (penjambret yang begitu merampas dompet langsung berlari tunggang langgang)

Peribahasa Indonesia di atas, berstruktur sama, namun maknanya bisa berubah begitu jauh. Ada pula yang berubah bentuknya, dan maknanya pun jauh berbeda.

Bentuk Plesetan Peribahasa Indonesia Berdasarkan Bentuk

Bentuk Plesetan Peribahasa Indonesia Berdasarkan Bentuk

Sementara itu, peribahasa Indonesia lama yang diubah tata frasanya untuk diplesetkan, di antaranya sebagai berikut.

  • Peribahasa Indonesia dan bentuk sesungguhnya: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari (Jika guru berbuat kesalahan, kemungkinan muridnya akan melakukan hal yang lebih buruk lagi). Plesetan bentuknya: Guru kencing berdiri, gurunya pasti laki-laki (mengingat perempuan tidak mungkin kencing berdiri).
  • Peribahasa Indonesia dan bentuk sesungguhnya: Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul (Mengerjakan sesuatu mesti bersama-sama). Plesetan bentuknya: Ringan sama dijinjing, berat pikul sendiri (Mengerjakan sesuatu bersama-sama, hanya bisa dilakukan pada hal yang enteng atau menyenangkan saja. Ketika tiba hal yang berat, biasanya orang lebih suka melarikan diri).
  • Peribahasa Indonesia dan bentuk sesungguhnya: Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh (menjaga kekompakan atau persatuan sangat penting). Plesetan bentuknya: Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi (sindiran satis atas betapa mudahnya nikah-cerai di zaman modern), atau bersatu kita teguh, bercerai kita ke Take Me Out (acara di salah satu stasiun televisi swasta).
  • Peribahasa Indonesia dan bentuk sesungguhnya: Buruk muka cermin dibelah (menyalahkan orang lain atas kesalahan sendiri). Plesetan bentuknya: Buruk muka cermin dijual(sindiran satis pada dunia modern yang melulu menggunakan logika uang).
  • Peribahasa Indonesia dan bentuk sesungguhnya: Tak ada akar rotan pun jadi (jika keadaan terdesak, kita boleh memakai hal-hal yang terlihat remeh atau rencana cadangan). Plesetan bentuknya: Tak ada akar, ram Punjabi (nama produser sinetron dan film di Indonesia).
  • Peribahasa Indonesia dan bentuk sesungguhnya: Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga (Sifat-sifat anak pasti berasal dari kebiasaan orang tuanya. Jika orang tua berperangai buruk, demikian pula anaknya). Plesetan bentuknya: Uang cucuran rakyat, jatuhnya ke DPR juga(Uang yang dibayarkan rakyat, pada akhirnya dialokasikan untuk DPR yang  terbiasa menghamburkannya).
  • Peribahasa Indonesia dan bentuk sesungguhnya: Air susu dibalas dengan air tuba (Kebaikan dibalas dengan kejahatan). Plesetan bentuknya: Air susu dibalas dengan air mail (Tukang susu berbalasan dengan tukang pos).
  • Peribahasa Indonesia dan bentuk sesungguhnya: Air beriak tanda tak dalam (Orang yang banyak omong biasanya bodoh). Plesetan bentuknya: Air teriak tanda tak tuli (Air tidak mungkin bisa berteriak)

Dalam contoh-contoh di atas, peribahasa Indonesia di masa modern terbukti telah dimodifikasi sedemikian rupa baik isi atau maknanya. Seringkali, arti atau makna tersebut hanya bersifat untuk menimbulkan tawa pembacanya. Namun, ada pula peribahasa Indonesia yang diubah hanya demi mengikuti rima bunyinya, sedangkan maknanya tidak penting, misalnya dalam peribahasa baru “tak ada akar, ram Punjabi” dan “”ringan sama dijinjing, berat sama difficult.”

Hal yang menarik, peribahasa modern juga tidak melupakan sisi kritisnya. Contoh “Uang cucuran rakyat, jatuhnya ke DPR juga” atau “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi” justru menunjukkan kepekaan sosial yang tinggi. Peribahasa Indonesia ini digunakan untuk menyerang pola hidup yang parah di negara kita.

Share:

Mangaip

Halo perkenalkan nama saya Mangaip. Saya merupakan konten kreator, influencer, dan penulis di blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ibu Guru Pasti Meleleh, Ini Puisi Hari Guru Nasional Berbagai Macam Peralatan Kantor Serta Fungsinya